Langsung ke konten utama

persoalaan kontemporer.

1.    Bagaimana kedudukan agama menurut masyarakat barat modern dan post modern?...
a.       Kedudukan agama pada masa modern.
Membicarakan soal agama pada masyarakat modern berarti terlebih dahulu membicarakan kondisi masyarakt modern. Terbentuknya masyarakat modern ditandai dengan revolusi Perancis dan industry besar-besaran di Inggris. Kedua kondisi itulah yang menandakan lahirnya masayarakat barat modern. Kedua kejadian itu merupakan awal kemaujuan pengetahuan yang dicapai oleh manusia. Capai pengetahuan manusia itu diperoleh setelah masyarat barat menentang dokrin kekuasaan gereja. Setelah orang barat banyak memeplajari karya ilmuan muslim dan mentranslit ke bahasa bahasa mereka. Maka banyak orang mulai sadar akan kebebsan mereka serta mendorong mereka untuk kian prtoduktif mengahsilkan pengetahuan. Namun keadaan tersebut bertentangan dengan kekuasaan gereja pada masa saat itu. Sehingga jalan satu-satunya adalah dengan menentang gereja. Masa ini dinamakan masa pencerahan atau bangkitnya dunia barat.
Masyarakat modern lahir dari protes terhadap agama. Agama yang sebelumnya memegang peran sentral dalam setiap mengambil keputusan berkenaan dengan menjalani kehidupan pada masyarakat modern mulai disinkirkan secara perlahan tapi pasti. Masyrakat barat modern manila agama tidak sejalan dengan pengetahuan yan mereka dapatkan. Agama menentang para ilmuwan bahkan gereja yang memainkan peran penting agama melakukan pengekangan terhadap ilmuwan. Banyak ilmuwan pada masa itu yang memdapatkan perlakuan diskriminasi dari gereja. Akibat dari ini semua banyak ilmuwan yang tidak percaya terhadap agama. Mereka mulai melepaskan diri dari agama mereka. Mereka mulai mulai melihat segala sesuat melai padangan rasionalitas. Dari pandangan ini lahirlah sekulerisasi yang mengatakan agama adalah urusan pribadi.
Alain tourraine mengambarkan modernitas sebabagai berikut: ide moderinitas menjadikan sains, dan bukan Tuhan, sebagai sesuatu yang sentral dalam masyarakat, pada puncaknya mengesampingkan kepercayaan agama kepada kehidupan pribadi yang terdalam. Lebih lanjut  Alain mengatakan…. Kehidupan public dan kehidupan pribadi harus dipisahkan…. Oleh kerena itu ide modernitas berkaitan dengan ide rasionalitas.
Dari urai di atas dapa disimpilakan bakwa pada masyarakat modern agama mulai kehilanag porsinya dalam mengatur kehidupan masyarakat. Sebulum apa yang disebut sebagai era penceraha, agama dan kekuasaan tuhan acapkali dibucarakan dan dikaitkan dengan setiap aspek keihudupan masyarakat. Masyarakat dalam memahami segala sesautu berdasarakan agama. Pada masa modern kekuasaan Tuhan manusia barat sudah jarang mendiskusiakannya. Memerka lebih percaya pada ilmu pengetahuan yang mereka peroleh. Tapi Alain masih percaya kalau pada era modern (abad 18) masih bisa dianggap abad metafisika.
b.      Keduduka agama era post-modern.
Post-modern merepukan penyempurna atau kelanjutan zaman modern. Walau demikian, post-modern tidak serta merta menerima beigtu seja apa yang telah dihasilkan zama modern, terutama berkenan dengan pemahaman atau gagasan. Post-modern banyak mengeritik  dan mempertanyaka tentang manusia bisa mememahami segala sesuatu. Produk modern yang paling dasar adalah menilai segala sesuatu berdasarkan apa yang tampak dak kelihatan dan diuniversalkan. Suutu fenomina yang ditemukan pada satu tempat bisa terjadi pada lain tempat dengan waktu dan ruang yang berbeda. Pemahaman inilah yang mendapat sorotan pada masa post-modern.
Post-modern berhipotesis bahwa manusia tidak mampu untuk memahami setiap struktur yang ada. Sehingga menyebabkan manusia harus meragukan apa yang tempak pada realitas. Semuanya berangkat pada apa yang disebut sebagai nihilisme. Nihilisme adalah sautu proses dimana pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisisa. Keadaan demikian menyebabkan manusia mulai melpaskan diri sacara total terhadap metafisaka yang berdampak apa yang dikatan oleh nietzsche “ Tuhan telah mati.”
Jon. R. Snyder meberikan keterangan apa yang disebut sebagai nihilisme. Nihilisme menurutnya “berhubungan dengan perubahan kebenaran ke dalam nilai, tapi nilai yang telah diwarnai oleh kepercayaan dan opini manusia.” Hal ini menyebabkan lahirnya sebuah pandangan tentang relativisme. Sebuah pandangan yang mengatakan tidak adanya kebenaran yang obsulut dan otoritas. Semuanya merupakan penilaian subyektif yang bisa benar juga bisa salah. Sautu yang dianggap benar oleh seseorang bisa bernilai salah dalam pandangan orang lain. menolak keslahan berarti harus menolakan kebenaran sekaligus. Karena kebenaran dan kesalahan adalah merupakan penilaian subyektif belaka. Naietzsche mendefinisikan meteka fisika sebagai “ilmu yang membahas tentang kesalahan manusia yang fundamental, seakan-akan semua itu kebenaran yang fundamental.”
Pemahaman masyarakat post-modern yang dipengaruhi oleh pandangan nihilisme menyebakan agama tersingkir dari kehidupan masyarakat. kalau masyarakat barat modern masih bisah dikatan sebagai masyarakat yang masih memeprcayai metafisika. Maka pada masyarakat pos-moder metafisika sudah ditinggalkan secara menyeluruh. Tidak ada keneran obsolut yang menjelma sebagai Tuhan, semuanya hanyalah subyektif dan relatif. Keberana meruapakan penafsiran terhadap objek bukan karena adanya objek yang diyakini mempunyai kebenran.

2.    Bagaimana hubungan isu-isu kontenforer dan program globalisasi?...
Istilah kontenforer merujuk pada era modern dan pot-modern. Dengan begitu kita bisa membatasi permasalah yang akan dibahas. Maksud dari isu-isu kontenforer adalah segala persoalan yang muncul pada era modern dan post-modern. Baik permasalah yang menyangkut permasalah agama atau permasalahan ideologi. Isu-isu kontenforer sebetulnya merupakan pemaksaan terhadap budaya barat agar bisa diterima oleh dunia timur. Dengan perkataan lain dunia timur dipaksa menerima budaya yang dihasil oleh dunia barat. Terutama budaya menyangkaut cara berpikir. Terutama cara berpikir menyikapi maslah metafisika. Mbara melihat dunia timur adalah dunia metefisika yang dianggap masih primitif. Karena mereka meinilai dunia timur selalu melatar belakangi pemikirannya dengan memasukkan alam metafisika.
Program globalisasi merupakan usaha bagai mana budaya barat bisa nasuk dan diterima di dunia timur yang masih berkutat dengan alam metafisika. Bara sangat menyadari akan kondisi masyaraka timur yang tidakl bisa lepas dari metafisika. Segala urusan baik yang menyangkut urusan sosial, ekonomi, politik dan ilmu pengetahuan berangkat dan kembalikan pada nilai obsolut yang diterjemahkan sebagai Tuhan. dengan mengetahui kondisi budaya ketimuran, masyarakat barat menyadari bahwa tidak bisa memasukkan budaya barat tampa terlebih dahulu harus merancang budaya barat seolah merupakan bagian dari dunia timur. Ada tiga bagian yang bertugas untuk mengenban amanah agar budaya barat bisa diterima di dunia timur. Ketiga bagian yang bertanggung jawab adalah orientalisme, misionarisme dan kolonialisme.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat ditarik benang merahnya antara hubungan isu-isu kontenforer dan program globalisasi  adalah sebuah usaha bagai mana budaya barat bisa masuk dan diterima oleh dunia timur. Globalisasi merupakan sebuah gerakan penyebaran budaya barat. Penyebarannya melalaui isu-isu kontenforer yang dikemas sedemikian rupa. Sehingga banyak masyarakat timur yang tidak menyadari bahkan terjebak, yang tadi bermaksuk melindungi atau mempertahan budaya timur malah mendukung budaya barat. Kemasan disajiakan dalam bentuk “pluralisme. Sekulerisasi, leberalisasi dan sebagainya.” Produk-produk globalisasi bertanggung jawab dalam penyebarannya sehingga dengan waktu yang relatif singkat bisa menyebar kebelahan dunia barat maupun timur.

3.    Bagaimana pendekatan kritis dan gender dalam perkembangan isu-isu kontemporer?...
a.      Pendekatan kritis.
Isu-isu kentemporer merupakan hasil dari pilsafat kritis, atau dengan ungkapan lain sikap mengkeritisi melahirkan permasalahan baru. Awalnya teori kritis ini hanya mengkeritisi masalah cara pandang filsafat fositivisme dan post-fositivisme. Kedua filsafat ini selalu menekankan dalam penilaiannya berdasar dunia biologi atau realitas yang tampak. Namun dengan seiringnya waktu, kritikal teori mulai merambah kedunia tradisional (agama).
Kritikal teori dalam mengkeritisi atau mempertanyakan segala suatu yag sudah dinggap mapan dalam tradisi tradisional memunculkan pandangan baru. Satu pandanagan yang belum dikenal sebelumnya dalam tradisional atau agama. misalnya permasalahan yang masih hangat dibicarakan sampai sekarang adalah pluralisme agama, gender. Semua itu berangkat dari kritikal teori yang telah mengkritisi agama.
pendekatan kritis ini banyak memberiknan peranan besar dalam mengembangkan isu-isu kontemporer. Karena pendekatan kritis menuntut untuk selalu mempertanyakan segala suatu yang sudah dianggap mapan. Akhir pendekatan ini mendorong orang untuk selalu mencurigai realitas yang ada. Sikap saling mencurigai ini menimbulkan sebuah sikap tidak percaya yang pada akhirnya melahirkan paham relitivisme. Pandangan semacam ini melahirka satu pandangan baru bahwa tidak ada yang melebihi satu sama lain, semuanya sama.
Selain tersebut di atas, kritikal teori ini juga bisa diibaratkan pisau bermata dua. Kritikal teori selain berperan pengembangan isu-isu kontempoirer juga bisa berfingsi menghambatnya. Melalu kritikal teori tidak sedikit para akademisi dan ilmuwan mempertanyakan tawaran yang ditawarkan oleh barat terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi manusia. Banyak ilmuwan yang meragukan tawaran solusi yang diajukan barat, bahkan mereka menilai apa yang dianggap sebagai solusi oleh barat merupakan satu masakah baru bagi manusia.
b.      Pendekatan gender.
H.T.Wilson mendefinisikan gender sebagai “suatu dasar untuk menentukan pembedaan laki-laki danperempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.” Gerekan gender ini merupakan satu garaka yang lahir di dunia post-modern menuntut persamaan hak. Pendekatan isu-isu kontenforer dengan menggunakan pendekatan gender ini banyak mandapat sorotan bahkan sampai sekarang masih hangat diperbincangkan dunia akademis.
Melalui pendekatan gender ini, banyak kritikal yang dilontar terhadap agama, mulai maslah persamaan hak dalam kancah sosial sampai pada tarap menegasikan hukum Tuhan dan syariah. Gerakan gender sacara radikal semacam ini disebabkan asumsi yang salah. Kelasahan asumsi ini menempatkan posisi perempuan sebagai yang “tertindas.” Berangkat dari asumsi semacan itu,  dengan terang-tearngan gerakan gender mengkritis al-Qur’an sebagai mana protestan mengkritik bible. Sekiranya kaum feminis berasumsi bukan sebagai kaum yang tertindas, tetapi sebagai perbadaan dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Maka gerakan gender dalam memperjuangkan mewjudkan cita-cita dasar menuntut persamaan akan terealisasikan.

Pendekatan gender yang bermula berangkat  dari dokrin persamaan sebagai pandangan humanisme pada akhirnya lebih menonjolkan budaya kebaratan. Ambil contoh dalam kasus itjihad memunuhi kebutuhan seksual, pendukung gerakan ini beranggapan yang dilarang adalah prilaku seksual bukan orientasi seksual. Anggapan semacam ini menjadi dasar dilegalkan pemenuhan seksual sesama jenis tidak lagi tergantung pada lawan jenis. Kaum lesbian maupun homoseksual merupakan sudah menjadi ketetapan Tuhan, sehingga prilaku seksualnya yang dianggap menyimpang oleh kebanyakan orang, haru dilindungi. Prilaku mereka yang dinilai menyimpang itu merupakan sunnahtullah dalam memenuhi orientasi seksualnya. Sebagai mana mereka melihat prilaku diluar komunitas mereka sebagai prilaku menyimpang dalam memenuhi kebutuhan seksualnya.

Komentar