Langsung ke konten utama

secercah harapan filologi

Mahasiswa sebagai agen perubahan tidak hanya belajar di hadapan buku saja. Bukan hanya teori yang harus dihafalkan setiap saat. Tapi jauh dari itu mahasiswa harus bisa menjadi sebuah agen perubahan dalam masyarakat, menimal melakukan perubahan di lingkuangan tempat tinggalnya. Karena mahasiswa yang sukses bukanlah mahasiswa yang mendapatkan IP yang tinggi. Tapi mahasiswa yang yang sukses ialah mahasiwa yang bisa berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. oleh sebab itulah mahasiswa dididik dan dibina agar kebal terhadap hal-hal yang bisa memalingkan tujuan utama mahasiswa sebagai agen perubahan. Mahasiswa di arahkan agar selalu bergerak aktif dalam membangun masyarakat.
Membangun masyarakat memang bukanlah perkerjaan yang mudah dilakukan. Namun bukanlah suatu yang mustahil untuk dilakukan. Membanguna masyarakat tidak hanya berupa membangun masyarakat secara fisik. Tapi harus juga diimbangi dengan membangun mental. Masyarakat yang maju tidak hanya dilihat dari kelengkapan dan infrastruktur yang canggih. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah mental masyarakat tersebut dalam mengahdapi fenomena kehidupan. Menggerakkan masyarakat untuk bergerak maju tidak boleh meninggalkan sejarah masyarakat dimana masyarakat itu hidup. banyak cara untuk bisa mendorong masyarakat agar bergarak maju. Tugas dan peran mahasiswa dalam kondisi seperti ini sangat dinantikan. Sudah saatnya mahasiswa untuk turun lapangan membantu masyarakat untuk melangkah kedepan tampa melupakan masa sejarahnya.
Filologi merupakan satu dari sekian banyak cara untuk memajukan masyarakat tampa harus melupakan sejarah masa lalunya. Filologi berusaha untuk melihat sejarah perdaban suatu bangsa dari karya yang dihasilkan. Filologi melihat dan menilai perabadan yang suatu bangsa melalui karya ynag dihasilkan. Menurut keterangan dosen yang mengajar kami. Objek yang dikaji oleh filologi merupakan naskah klasik yang berusia lima puluh tahunan lebih. Naskah kono berusai Lima puluh tahun sudah bisa masuk dalam kajian filologi untuk negara indonesia. Namun, di luar negara indonesia naskah klasik atau kono bisa masuk dalam kajian filologi harus berusia satu abad atau berusia seratus tahunan.
saya seorang mahasiswa jurusan studi agama-agama mendapatkan mata kuliyah filologi. Disini saya akan bercerita tentang pengalaman ketika berusaha meneluri naskah klasik yang berkaitan dengan jurusan saya. Cerita ini berawal dari tugas dari dosen untuk mencari manuskrif klasik yang berkaitan dengan jurusan. Saya menaggap serius tugas itu dan berusaha menemukan sebuah naskah kono. Saya sangat penasaran bagai mana orang dulu yang prasarana menulis tidak secanggih sekarang bisa mengahsilkan tulisin yang berjilid-jilid? Bagaiman meraka bisa meluangkan waktunya untuk menulis karyanya? Bahan apa yang mereka gunakan untuk menulis? Apakan cara penulisanya menggunakan abjad laten atau selainnya? Dan masih banyak lagi rasa penasaran saya terhadap karya kono.
Cerita ini saya mulai dari pencarian saya menukan naskah klasik sebagai bentuk tanggung jawab saya pada dosen. pada hari kamis tanggal 14 september saya berjalan menuju toko buku untuk mencari buku-buku yang bisa saya jadikan pegangan kuliyah. Tampa sengaja saya berpapasan dengan dua orang teman yang sama-sama kuliyah di IAIN Pontianak. Saya menegur dan basa-basi sedikit sekedar menghangatkan pertemanan. Rupanya mereka bedua juga sedang mancari buku bacaan untuk dijadikan pegangan kuliyah. Sedikit saya gambarkan percakapan kami sebentar karena mereka mau buru-buru pulang. Huruf S menunjuk kepada saya. Huruf M merujuk pada mereka.
S: lagi cari buku juga?
M: ya, lagi cari buku dan kamus.
S: sudah dapat apa yang dicari?
M: tidak dapat. Saya pulang duluannya?
S:bentar, boleh saya nanyak?
M: apa ya?
S: Apakah kamu pernah belajar filologi, sebuah ilmu yang mengkaji tentang naskah klasik?
M: kami belum pernah dan kami tidak paham naskah klasik!
S: filologi itu mengakaji naskah yang berusia lima puluh tahunan atau lebih. Atau kamu punya file atau tulisan yang berusia segitu? Karya itu boleh berupa tuulisan tangan ataupun di cetak, asalkan sudah berusian lima puluh tahunan.
M: maaf, saya tidak pernah belajar itu dan kami juga tidak punya karya yang berusia segitu, baik dalam bentuk file ataupun buku.
Setelah percakapan ini mereka pamit pulang dan percapanpun terputus. Pada hari itu saya belum bisa melayak sebuah karya klasik dari teman satu kampus. namun saya masih belum putus asa untuk melacak keberadaan naskan klasik dari sember yang berbeda.
Ke esokan harinya, saya mencoba melacak naskah klasik kepada seorang teman dari kampus yang berbeda. Bahkan pada hari yang sama saya meminta bantuan teman dari kalimantan timur untuk membantu saya mencari naskah klasik. Tapi sampai saat ini masih belum ada imformasi dari dia tentang naskah yang saya cari. Pada tanggal 15 september jam 16:00 saya bertanya pada teman yang kuliyah di STIE Pontianak dan jam 17:20 saya bertanya pada seorang teman lagi kuliyah di UNTAN jurusan bahasa Indonesia. Dari keduanya saya masih belom bisa memiliki naskah klasik. Tapi kepada keduany saya meminta bantuan untuk menyakan kepada teman-teman meraka. Namun dari keduanya masih belom ada tanda-tanda adanya naskah klasik yang dapat saya miliki.
Sabtu, 16 september, saya pulang awal dari kampus karena pada hari itu dosen tidak bisa masuk mengisi mata kuliyah yang di empunya. Pada hari sabtu itu saya sempatkan untuk jalan-jalan ke PUSDA. Karena sudah cukup lama juga saya tidak pergi kesana disebabkan libur panjang kampus. sesampainya di PUSDA saya nitip tas dan naik kelanti dua untuk mencari buku bacaan sekaligus mencari naskah klasik di ruangan referensi. Dalam ruang itu saya telusiri setiap rak buku sambil berharap bisa menemukan naskah klasik atau setidaknya adak buku yang mengutif dengan mengikut sertakan tulusisan atau poto aslinya. Satu jam saya telusuri tidak menemukan tanda-tanda adanya naskah klasik kemudian saya turun untuk meminjam buku yang ada kaitannya dengan jurusan dan mata kuliyah. Setelah menemukan buku yang saya cari, saya keluar mau pulang. Sebelum pulang saya menyapa petugas dan menyakan dimana saya bisa menemukan naskah atau karya baik yang ditulis pakai tangan atau pakai mesin cetak yang berusia lima puluh tahunan? Petugas itu menunjukkan saya untuk datang hari senin kegedung DEPOSIT yang terletak di belakang PUSDA. Sebelumnya petugas itu bilang” dulu di sini pernah menyimpan karya klasik yang di cetak, tapi sekarang sudah tidak lagi, coba adek datang lagi hari senin  langsung ke gedung DEPOSIT di belakang”. Saya kejar petugas ini dengan menanyakan”kira-kira bapak tau dimana karya kalasik itu di simpan atau di sini ada file tentang naskah klasik? Petugas itu menjawab” saya tidak tau dimana naskah klasik di pindahkan. Coba aja adek hari senin ke gedung dibelakang. Di sana sana ada ruangan DEPOSIT yang bertugas untuk mengurusi naskah klasik. Kalau filenya kami masih belom ada. Ada sedikit cahaya harapan untuk dapat memegang karya klasik. Kerena selama ini hanya melihat dan tahu potonya saja.
Senin 18 sepember, pagi-pagi saya menuju kampus untuk mengurus dan mencarikan tempat buat dosen karena meminta memindahkan waktu yang telah ditetapkan pihak akademik. Pagi itu sekitar jam 8:30 saya menemui pak ridwan selaku pengurus perpustakaan kampus untuk menyakan ruangan yang masih kosong. Setelah selesai dengan urusan tempat dan waktu yang yang telah di sepakati saya keluar langsung menuju ke PUSDA. Setelah saya sampai ke PUSDA langsung menuju gedung di belakang PUSDA dan menujuu ruangan DEPOSIT. Di situ saya menanyaka di mana letak ruangan DEPOSIT? Petugas menunjuk ruangannya ada di lantai dua sebelah kanan. Kemudian saya permisi sama petugas tadi untuk menuju lantai dua. Di lantai dua saya langsung masuk ruangan yang saya tuju dan bertanya kepetugas mengenai naskah klasik. Saya gambar potongan percakapan dengan pertugas. Huruf S merujuk pada saya. Dan huruf P menunjukkan petugas.
S: di mana saya bisa menemukan naskah klasik yang berusaia lima puluh tahunan?
P: naskah seperti itu sangan sulit di temukan dek, di sini kami tidak ada menyimpan naskah denga seumur itu. Biasanya naskah-naskah seperti itu ada pada ahli warisnya.
S: mungkin di sini ada file tentang naskah klasik.
P: di sini filenya juga tidak ada. Tapi adek coba lihat rak sebelah ujung sana. Di sana kami simpan berdasarkan urutan tahunnya. Mungkin ada yang cocok buat adek.
Setelah saya teliti setiap buku dan rak berdasarkan tahunnya. Saya tidak menemukan satupun naskah yang saya cari. Semua petugas yang ada dalam rungan DEPOSIT saya tanyakan semua. Tapi tidak satupun mereka yang menyimpan naskah klasik baik berupa buku maupun file. Dalam ruang ini menympan buku-buku catatan pemerinhana dari tahun 1968 sampai sekarang.

Akhirnya secercah harapan di hari sabtu padam seketika saat saya tidak menemukan naskah klasik di ruangan DEPOSIT. Namun, gagalnya saya menemukan ataupun mendapatkan naskah klasik bukanlah merupakan kegagalan. Saya menilai ini merupakan satu langkah keberhasilan bagi saya. Kerena telah bergerak aktif untuk bisa mendapatkan naskah klasik walaupun kembali dengan tangan hampa. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah kalimat yang tidak asing lagi bagi kita semua.”Allahu bitTaqdir, al insanu bitTakhyir” artinya: manusia hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan berhasil tidaknya suatu usaha.

Komentar